Genderless Kei ❤

Pinkiesh!

Di post yang lalu Pinkan sempat menyinggung soal fashion yang tidak memandang gender atau sex. Nah, kali ini Pinkan mau ngebahas salah satunya yang merupakan trending hits di Jepang pada tahun 2017 lalu! Oh iya, isi post-an Pinkan ini hasil penelitian Pinkan dan teman-teman kelompok Pinkan untuk artikel ilmiah contemporary Japan  tentang sexual orientation di kuliah semester dua kemarin makanya bahasanya gitu, bahasa ngomong ke dosen! Hihihihi
So, enjoy !
 

Jepang merupakan salah satu dari jajaran mode fashion dunia. Jepang memiliki fashion yang bisa dibilang aneh dan unik dengan berbagai genre yang berbeda-beda. Berbagai genre tersebut didefinisikan sesuai dengan gender, yaitu laki-laki dan perempuan. Namun pada tahun 2015 muncul sebuah fashion yang tidak menitik beratkan pada hal gender dan mencapai pada puncak kejayaannya di dunia fashion pada akhir tahun 2016.
Hasil gambar untuk genderless kei
https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*B5i1jgUqhfYDka8-SFeLtw.jpeg
Gendrless Kei (“kei” artinyastyle”) melejit di kalangan remaja Jepang sejak Tokyo Girls Collection 2015 Autumn/Winter fashion show dan semakin terkenal melalui foto-foto di media social. Trend ini digandrungi baik remaja putra maupun putri namun keunikan dari “Genderless Danshi” – sebutan untuk remaja lelaki genderless – lebih banyak mendapat perhatian dari masyarakat, sangking trending-nya para genderless danshi ini dijadikan sebagai idols di kalangan remaja Jepang. Genderless Danshi berpeampilan flashy, memadukan hal lelaki dan tekhnik kecantikan perempuan pada tubuh mereka. kebanyakan dari mereka bertubuh langsing, semampai, berparas manis yang dipoles dengan makeup perempuan, mengenakan cat kuku dan aksesoris lucu serta menata rambut mereka sedemikian rupa. (@Tokyofashion/2016)





Sebuah video dan artikel yang diterbitkan oleh surat kabar internasional, The New York Times, memaparkan hasil wawancara dengan Toman Sasaki(18) -model dan anggota idol group genderless danshi- yang menyatakan
“tanpa terpaku dengan sex, kami percaya bahwa kami bisa memilih apapun yang kami suka”(NYT-2017). Sasaki mengaku bahwa ia lelaki tulen dan tidak ingin menjadi perempuan, namun karena garis wajah dan lekuk tubuh yang menjadikannya sasaran bully, ia sadar bahwa dia harus menjadi cantik. Bukan sebagai perempuan ataupun lelaki, tetapi hanya cantik sebagai dirinya. Ia juga berkata bahwa di dalam hatinya, Ia adalah lelaki, konsep tentang gender benar-benar tidak diperlukan. Tiap orang berhak memilih style apapun yang sesuai dengan mereka. 


“It’s about blurring the boundaries that have defined pink and blue; masculinity and femininity.,”
– Jennifer Robertson, 5 Jan 2017(With Manicures and Makeup, Japan’s ‘Genderless’ Blur Line Between Pink and Blue
)




Kirsten Dellinger, Amy McDowell , Minjoo Oh – Department of Sociology and Anthropology at the University of Mississippi – berpendapat; apakah lelaki Jepang mengenakan makeup dan melakukan menicure membuat mereka Genderless? Kami piker tidak. “Genderless” menjadi tak berarti saat lelaki yang menyatakan diri sebagai “blurring style distinctions” menjelaskan bahwa “laki-laki harus melindungi perempuan… laki-laki lebih kuat dari pada perempuan, dan laki-laki harus bekerja karena perempuan lebih lemah .”  namun, fakta bahwa danshi merasa perlu mempertahankan kejantanan dan heterosexualitasnya bisa berarti bahwa mereka sedang melakukan sesuatu untuk mengusik sex/gender/sexuality system. (Gender&society/2017)
Hal ini membingungkan, memang. Mereka mengaku genderless, namun menyatakan bahwa hati mereka tetaplah lelaki, dan mereka melindungi perempuan yang jelas-jelas merupakan salah satu dari sifat alamiah lelaki. 
(Pusing kan? sama, saya juga 😂😂😂)
Genderless boys are not trying to pass as women - rather, they are rejecting traditional gender rules to create a new Genderless standard of beauty.
One important point about this new movement is that Genderless style is not related to sexuality.(@TokyoFashion/2016)
Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya.(Tabir wanita/2009)
menurut ilmu sosiologi dan antropologi, Gender adalah perilku atau pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang sudah dikonstruksikan atau dibentuk di masyarakat tertentu dan pada masa waktu tertentu pula. Gender ditentukan oleh kondisi sosial budaya sedangkan seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan oleh tuhan. Kedua hal tersebut berhubungan sebagai hubungan antara lelaki dan perempuan yang bersifat saling membantu atau sebaliknya. Sedari kecil, pembagian gender dapat dilihat dari mainan, warna dan hal lain yang menyesuaikan dengan seks. Bahkan buku-buku bacaan di sekolah menggambarkan peran-peran lelaki dan perempuan sehingga membuat kita berpikir bahwa memang demikianlah adanya peran-peran yang harus kita jalankan. Bahkan, kita menganggapnya sebagai kodrat.
Rata-rata umur pemuda yang mengandrungi trend ini berkisar 16-28tahun. Trend ini didasari oleh pemikiran mereka tentang kebebasan yang terbelenggu oleh konteks gender: lelaki diharuskan seperti ini; perempuan seperti itu, yang meng-kodrati dan membatasi kreatifitas mereka dalam ber-fashion dan beraktifitas sehari-hari. Mereka ingin meruntuhkan sistem sexualitas dan gender  yang menurut mereka membatasi kebebasan.
 Nah ini nih, Pinkiesh, bukti lain yang menunjukan kalau fashion adalah identitas dan karakter seseorang. Tanpa memandang gender, mereka bergaya sesuai dengan apa yang mereka inginkan dan yang menurut mereka "Gue Banget"!
Buat Pinkan sendiri, pristiwa fashion dan orientasi sexual ini menarik banget loh, Pinkiesh. Soalnya tanpa kita sadari, banyak sudut pandang berbeda yang belum bisa kita pahami. Permainan sudut pandang emang sering banget nih memicu missunderstanding yang bisa berujung pada perselisihan! Makanya Pinkan selalu ngingetin kalian, cobalah lihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang berbeda, kalau gak bisa ngerti juga, wis tanya baik-baik ke yang bersangkutan biar.... tak ada dusta diantara kita. 😎/eaaa


Menurut kalian, trend genderless ini gimana, Pinkiesh? Share isi kepala kalian ya! (^w^) 

 

Eh iya, yang penasaran sama idol group genderless bisa di-search sendiri nih hihihi
Untuk yang Jepang, nama idol groupnya XOX(Kiss Hug Kiss) dan dari China nama idol groupnya FFC-Acrush, dan mungkin masih ada lagi yang lainnya. 


BTW ini murni hasil jerih payah penelitan saya sama kelompok saya dengan metode pnelitian deskriptif analitis. Jadi ini ada HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual)-nya yaaa 😊😊😊😊









Komentar

  1. Mengenai genderless kei ini sangat menarik sekali ya? Sepertinya saya juga jadi sadar bahwa saya harus tampil cantik bukan sebagai laki-laki maupun perempuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaudah kalo gitu pas wasabi tampil TT dance yaa hehe :D

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. secara ga langsung ngingetin kita kalo kita bebas jadi sendiri tanpa harus mendengar pendapat orang lain yaa..
    Lebih baik berkreasi seluas-luasnya daripada terkungkung dalam suatu batasan ahahaha
    BTW ganbareee

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer